Dari Ruang Kelas Mewujudkan Rakyat Berdaulat, Adil, dan Makmur

Oleh Erika Marta Devi, SP, MPd

Kepsek SPNF SKB Kota Palembang

PENDIDIKAN nonformal memiliki peran strategis dalam meningkatkan kompetensi masyarakat melalui program pendidikan kecakapan hidup yang berorientasi pada kebutuhan nyata di lingkungan sekitar. Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) SKB Kota Palembang sebagai satuan pendidikan nonformal tidak hanya menyelenggarakan program kesetaraan, tetapi juga mengembangkan berbagai pelatihan vokasional yang bertujuan membekali peserta didik dengan keterampilan nproduktif, sebagai bekal memasuki dunia kerja maupun berwirausaha. Salah satu bentuk pembelajaran berbasis keterampilan yang relevan dengan potensi lokal adalah budidaya jamur tiram (pleurotus ostreatus).

Pemilihan budidaya jamur tiram sebagai media pembelajaran di SPNF SKB Kota Palembang didasarkan pada beberapa aspek. Pemilihan jamur tiram dikarenakan jamur ini dikonsumsi khalayak banyak dengan nilai ekonomis dan mudah di dapatkan, serta budidaya jamur ini tergolong mudah, sehingga dapat dikembangkan oleh siapa saja. Teknik budidaya yang relatif sederhana, tidak memerlukan lahan yang luas, serta dapat dikembangkan dalam skala rumah tangga. Kedua, kebutuhan pasar terhadap jamur tiram di Kota Palembang terus meningkat, sementara kapasitas produksi lokal belum mampu memenuhi seluruh permintaan sehingga masih tersedia peluang usaha yang cukup besar bagi masyarakat.

Selain memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan, budidaya jamur tiram juga sesuai dengan karakteristik pendidikan nonformal yang menekankan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Seluruh proses budidaya, mulai dari persiapan kumbung, penyusunan baglog, pengendalian suhu dan kelembapan, pemeliharaan, panen, hingga pengemasan dan pemasaran hasil panen, kesempatan  diberikan kepada peserta didik sebagai pengalaman pembelajaran. Proses tersebut memungkinkan peserta didik Paket A, B dan C mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, bekerja sama dalam kelompok, berkomunikasi, serta mengambil keputusan berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

Panen jamur tiram. Foto: IST
Panen jamur tiram. Foto: IST

Pelaksanaan pembelajaran keterampilan di pendidikan nonformal masih sering berorientasi pada penguasaan prosedur teknis, sehingga keberhasilan belajar lebih banyak diukur dari kemampuan menghasilkan produk. Kondisi tersebut menyebabkan proses pembelajaran belum sepenuhnya mendorong peserta didik Paket A, B dan C memahami alasan ilmiah di balik setiap tahapan budidaya, merefleksikan pengalaman belajar, maupun mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Padahal, keberhasilan budidaya jamur tiram tidak hanya ditentukan oleh keterampilan teknis, tetapi juga oleh kemampuan menganalisis penyebab kegagalan produksi, mengidentifikasi faktor lingkungan yang memengaruhi pertumbuhan jamur, serta merancang solusi yang tepat ketika menghadapi berbagai kendala selama proses.

Sejalan dengan kebijakan transformasi pendidikan, Pendekatan Pembelajaran Mendalam menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran vokasional di SPNF SKB Kota Palembang. Pendekatan ini menempatkan peserta didik Kesetaraan Paket A, B dan C sebagai siswa aktif yang membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata dengan menekankan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Melalui pendekatan tersebut, peserta didik tidak hanya mengetahui cara membudidayakan jamur tiram, tetapi juga memahami konsep biologis pertumbuhan jamur, hubungan antara pengelolaan lingkungan dengan produktivitas, nilai ekonomi usaha budidaya, serta peluang pengembangan produk berbasis kewirausahaan

Penerapan Pembelajaran Mendalam pada budidaya jamur tiram diharapkan mampu mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, karakter, dan kompetensi kewirausahaan dalam satu pengalaman belajar yang utuh. Peserta didik didorong untuk mengidentifikasi permasalahan nyata selama proses budidaya, menyusun alternatif solusi berdasarkan hasil observasi, melakukan refleksi terhadap hasil praktik, serta mengembangkan inovasi dalam pengolahan maupun pemasaran produk jamur. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya menghasilkan lulusan yang terampil secara teknis, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, komunikatif, dan adaptif terhadap perkembangan dunia usaha.

Metode Perawatan

Media tanam yang umum digunakan berupa baglog yang tersusun dari serbuk gergaji, dedak, kapur, dan air dengan komposisi yang sesuai agar pertumbuhan miselium berlangsung optimal (Parjimo & Andoko, 2007).

Tulisan lainnya :   Produksi Film "Lenget The Movie", Dorong Pelestarian Budaya Daerah

Perawatan merupakan tahap yang sangat menentukan keberhasilan budidaya jamur tiram. Setelah baglog disusun di dalam kumbung Keberhasilan pertumbuhan jamur dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama suhu, kelembapan, dan kebersihan kumbung (Suriawiria, 2002), peserta didik Program Paket A, Paket B, dan Paket C di SPNF SKB Kota Palembang melakukan perawatan secara rutin agar pertumbuhan miselium dan pembentukan tubuh buah jamur berlangsung optimal.

Langkah pertama dalam perawatan adalah menjaga kebersihan kumbung. Kebersihan lingkungan budidaya sangat penting untuk mencegah tumbuhnya jamur liar, bakteri, maupun hama yang dapat merusak baglog. Lantai kumbung dibersihkan secara berkala, sisa-sisa jamur yang telah dipanen dibuang, serta baglog yang terkontaminasi segera dipisahkan agar tidak menular ke baglog lainnya.

Selanjutnya, kelembapan ruang kumbung dijaga dengan melakukan penyiraman atau penyemprotan air menggunakan sprayer pada lantai dan dinding kumbung. Penyemprotan dilakukan secara rutin, terutama pada pagi dan sore hari, dengan tujuan mempertahankan kelembapan ruangan sekitar 80–90%. Penyemprotan tidak dilakukan langsung ke permukaan baglog atau tubuh buah jamur karena dapat menyebabkan pembusukan dan menghambat pertumbuhan.

Selain kelembapan, suhu ruang juga diperhatikan. Jamur tiram tumbuh dengan baik pada suhu sekitar 22–28°C(Widyastuti, Tjokrokusumo, & Giarni, 2010). dengan sirkulasi udara yang baik. Oleh karena itu, ventilasi kumbung selalu dijaga agar udara tetap segar dan tidak terlalu lembap. Jika suhu meningkat, penyemprotan dapat dilakukan lebih sering untuk membantu menurunkan suhu di dalam kumbung.

Peserta didik juga melakukan pengamatan setiap hari terhadap kondisi baglog. Pengamatan meliputi pertumbuhan miselium, munculnya calon tubuh buah (pinhead), kondisi kelembapan, serta adanya tanda-tanda serangan hama atau kontaminasi. Apabila ditemukan baglog yang terserang jamur lain atau mengalami pembusukan, baglog tersebut segera dipisahkan agar tidak mengganggu pertumbuhan baglog yang sehat.

Kegiatan perawatan ini menjadi bagian dari pembelajaran praktik di SPNF SKB Kota Palembang. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik belajar menerapkan kedisiplinan, ketelitian, tanggung jawab, dan kerja sama dalam menjaga kualitas budidaya. Perawatan yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan pertumbuhan jamur yang seragam dan produktivitas panen yang lebih tinggi.

Linimasa budidaya jamur tiram di SPNF SKP Palembang:

  1. Sosialisasi pengendalan jamur  tiram dan media tanam. Peserta mengikuti sosialisasi mengenai budidaya jamur tiram, manfaat, prospek usaha, syarat tumbuh, serta pengenalan media tanam (baglog), alat, dan bahan yang digunakan. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya.
  2. Praktik Pembuatan media Baglog dan Sterilisasi Baglog Menggunakan Drum. Peserta mempraktikkan pembuatan media tanam dengan mencampurkan serbuk gergaji, dedak, kapur, dan air sesuai komposisi. Media kemudian dimasukkan ke dalam plastik baglog.
  3. Inokulasi Bibit Jamur. Bibit jamur tiram dimasukkan ke dalam baglog secara aseptik menggunakan alat yang telah disterilkan. Baglog kemudian ditutup kembali, diberi label tanggal inokulasi, dan disusun di ruang inkubasi.
  4. Masa Inkubasi. Baglog disimpan di ruang inkubasi dengan suhu sekitar 22–28°C. Selama masa ini dilakukan pemantauan rutin terhadap kebersihan ruangan dan pertumbuhan miselium. Miselium putih secara bertahap menyebar hingga memenuhi seluruh media tanam.
  5. Perawatan  Baglog. Setelah miselium memenuhi baglog, penutup kapas dibuka. Baglog dipindahkan ke kumbung produksi. Dilakukan penyemprotan air pada lantai dan dinding kumbung untuk menjaga kelembapan, serta pemantauan suhu dan kebersihan lingkungan.
  6. Pertumbuhan Tubuh Buah Jamur. Calon tubuh buah (pinhead) mulai muncul pada mulut baglog. Perawatan dilakukan secara rutin.
  7. Habis sudah pertumbuhan dan panen jamur tiram. Dilakukan pembukaan baglog media tanam jamur untuk dapat dijadikan media tanam lainnya dengan menambahkan pupuk kandang.

Metode Panen 

Panen dilakukan ketika jamur telah mencapai tingkat kematangan yang optimal. Ciri-ciri jamur yang siap dipanen adalah tudung jamur telah mekar, tetapi bagian tepinya masih sedikit melengkung ke bawah, warna jamur masih cerah, teksturnya segar, dan belum mengeluarkan spora dalam jumlah banyak. Umumnya jamur dapat dipanen sekitar 3–5 hari setelah bakal jamur muncul, tergantung kondisi lingkungan dan kualitas baglog.

Tulisan lainnya :   Produksi Film "Lenget The Movie", Dorong Pelestarian Budaya Daerah

Proses panen dilakukan secara hati-hati dengan memegang pangkal rumpun jamur, kemudian diputar perlahan hingga seluruh rumpun terlepas dari baglog. Cara ini lebih baik dibandingkan memotong bagian batang karena dapat mengurangi sisa batang yang berpotensi membusuk dan menjadi sumber kontaminasi.

Jamur yang telah dipanen selanjutnya disortir berdasarkan kualitas. Jamur yang utuh, bersih, dan segar dipisahkan dari jamur yang rusak atau cacat. Setelah proses penyortiran, jamur dikemas menggunakan kemasan yang bersih dan memiliki sirkulasi udara agar kesegarannya tetap terjaga selama penyimpanan dan distribusi.

Di SPNF SKB Kota Palembang, hasil panen tidak hanya menjadi produk untuk dipasarkan, tetapi juga menjadi media pembelajaran kewirausahaan bagi peserta didik Paket A, Paket B, dan Paket C. Peserta didik mempelajari proses pengemasan, penentuan harga jual, promosi, hingga pemasaran hasil panen kepada masyarakat. Dengan demikian, mereka memperoleh pengalaman langsung mengenai pengelolaan usaha sederhana berbasis budidaya jamur tiram.

Secara keseluruhan, metode perawatan dan panen yang diterapkan dalam budidaya jamur tiram di SPNF SKB Kota Palembang menunjukkan bahwa keberhasilan budidaya sangat bergantung pada ketelitian dalam menjaga kebersihan, kelembapan, suhu, serta ketepatan waktu panen. Kegiatan ini tidak hanya menghasilkan produk pertanian yang bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan keterampilan teknis, sikap kerja, dan jiwa kewirausahaan peserta didik pendidikan kesetaraan.

Refleksi

Pelaksanaan pelatihan budidaya jamur tiram di SPNF SKB Kota Palembang memberikan pengalaman belajar yang mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja bagi peserta didik Program Paket A, Paket B, dan Paket C. Melalui keterlibatan langsung dalam setiap tahapan, mulai dari sosialisasi, pembuatan media baglog, sterilisasi, inokulasi bibit, perawatan, hingga panen, peserta tidak hanya memahami teori budidaya jamur tiram, tetapi juga memperoleh keterampilan praktis yang dapat diterapkan sebagai bekal berwirausaha.

Selama pelaksanaan kegiatan, peserta menghadapi berbagai tantangan, seperti menjaga kebersihan media, mengontrol suhu dan kelembapan kumbung, serta memastikan pertumbuhan jamur berlangsung optimal. Pengalaman tersebut menjadi proses pembelajaran yang berharga karena melatih ketelitian, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama dalam menyelesaikan setiap tahapan budidaya.

Hasil pelatihan menunjukkan bahwa budidaya jamur tiram memiliki potensi sebagai media pembelajaran berbasis kecakapan hidup (life skills). Selain menghasilkan produk yang bernilai ekonomi, kegiatan ini juga mampu menumbuhkan jiwa kewirausahaan, meningkatkan rasa percaya diri, dan memberikan pengalaman nyata dalam mengelola usaha sederhana. Peserta didik belajar bahwa keberhasilan budidaya sangat ditentukan oleh ketepatan prosedur, kualitas media tanam, penggunaan bibit yang baik, serta perawatan yang dilakukan secara konsisten.

Kegiatan budidaya jamur tiram di SPNF SKB Kota Palembang diharapkan dapat terus dikembangkan melalui peningkatan kualitas sarana dan prasarana, pendampingan teknis yang berkelanjutan, serta penguatan aspek pengolahan dan pemasaran hasil panen. Dengan demikian, program ini tidak hanya menjadi media pembelajaran, tetapi juga dapat berkontribusi pada peningkatan keterampilan, kemandirian ekonomi, dan pemberdayaan peserta didik pendidikan kesetaraan. kegiatan budidaya menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan mendukung pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) dengan memanfaatkan kembali limbah baglog sebagai media tanam organik. Media baglog bekas berhasil dimanfaatkan kembali sebagai media tanam organik yang dapat digunakan untuk budidaya sayuran dan tanaman buah di lingkungan SPNF SKB Kota Palembang. (*)

Daftar Pustaka

Parjimo, & Andoko, A. (2007). Budidaya jamur. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed