SUMSELHEADLINE.COM, PALEMBANG – Kesadaran terhadap ancaman pemanasan global (Global Warming) dan perubahan iklim, mendorong lahirnya sebuah gerakan moral dan gerakan peradaban bernama Era Baru, “Arus Perubahan Iklim”.
Gerakan tersebut dirumuskan dalam sebuah pertemuan yang berlangsung secara luring dan daring di Law Firm Bambang Associates Palembang, Kamis (11/6/2026), yang dihadiri sejumlah akademisi, praktisi, tokoh masyarakat, pegiat lingkungan, serta insan media.
Pertemuan tersebut diikuti oleh Dr. Yenrizal, Bangun Lubis, Bambang, MH, Karan, MSi, Prof. Isna Wijayani, Iklim Cahya, MSi, Norma Juwita, MAg, Tedy Dwi Fani, M.Si, Abriza, ST, Salamah Syahabudin, Rosihan Arsyad, Mas Mugiarto, Maspril Aries, Muhammad Husni, dan Aina Rumiyati Azis.
Dalam pertemuan itu disepakati sejumlah pokok pemikiran yang menjadi manifesto awal Gerakan Era Baru – Arus Perubahan Iklim.
Peserta menilai bahwa pemanasan global dan perubahan iklim telah menjadi tantangan bersama yang dampaknya semakin dirasakan masyarakat. Kenaikan suhu bumi, banjir, pencemaran lingkungan, berkurangnya kawasan hijau, hingga berbagai bencana ekologis menjadi persoalan yang memerlukan perhatian serius dari seluruh elemen bangsa.
Karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk membangun kehidupan yang lebih ramah lingkungan demi menjaga masa depan generasi mendatang.
Salah satu kesepakatan penting dalam pertemuan tersebut adalah menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama perubahan.
Para peserta mendorong lahirnya pendidikan lingkungan sejak dini melalui sekolah dan perguruan tinggi. Guru dan dosen diharapkan dapat memasukkan nilai-nilai pelestarian lingkungan dalam proses belajar mengajar sehingga kesadaran ekologis tumbuh menjadi budaya masyarakat.
Selain pendidikan, penguatan literasi dan komunikasi lingkungan juga dipandang sangat penting. Diskusi, seminar, penulisan artikel, pemanfaatan media massa dan media sosial, serta dokumentasi melalui foto dan video dinilai menjadi bagian dari gerakan yang harus dilakukan secara berkelanjutan.
Pertemuan tersebut juga menekankan pentingnya konsistensi dalam menjalankan gerakan lingkungan.
Para peserta meyakini bahwa perubahan besar tidak dapat dicapai secara instan, melainkan memerlukan kesabaran, komitmen jangka panjang, serta semangat yang terus dipelihara.
Gerakan lingkungan, menurut mereka, juga membutuhkan jejaring yang luas. Karena itu, kerja sama dengan pemerintah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dunia usaha, media massa, komunitas lingkungan, tokoh masyarakat, dan generasi muda menjadi bagian penting dalam memperkuat gerakan.
Selain itu, pelestarian lingkungan juga memerlukan dukungan kebijakan publik yang berpihak kepada pembangunan berkelanjutan.
Dalam pertemuan tersebut, peserta juga menyoroti sejumlah kawasan strategis di Sumatera Selatan yang perlu mendapatkan perhatian bersama, di antaranya Taman Nasional Sembilang, kawasan hutan, daerah rawa dan lahan basah, Sungai Musi, serta kawasan pesisir.
Secara khusus, Sungai Musi sebagai ikon Sumatera Selatan dinilai membutuhkan perhatian lebih melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas lingkungan.
Peserta pertemuan juga sepakat bahwa gerakan lingkungan tidak boleh berhenti pada diskusi dan seminar semata.
Gerakan harus diwujudkan dalam aksi nyata seperti penanaman pohon, penghijauan, gerakan bersih kampung, membersihkan pasar, sekolah, kampus, kantor, sungai, serta mengurangi penggunaan sampah plastik. (nda)
Edcitor: Edi













