Pengiriman Sampah Dimulai, PSEl Palembang Akan Produksi 17,7 MW Listrik

SUMSELHEADLINE.COM, PALEMBANG — Setelah cukup lama dibangun, akhirnya fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di Keramasan, Kertapati Palembang, segera mulai beroperasi.  Jika sudah maksimal beroperasi, maka PSEL ini mampu menampung sebanyak 960 ton sampah per hari.

Dengan kapasitas tersebut, maka cukup signifikan menampung produksi sampah di Kota Palembang, yang mencapai 1.260 ton per hari. Pengiriman sampah perdana, Selasa (1/9/2026) ke PSEL, yang disaksikan langsung Walikota Palembang, Ratu Dewa.

“Hari ini adalah hari perdana masuknya sampah dari beberapa tempat ke PSEL yang menghasilkan energi listrik. Dari Dinas Lingkungan Hidup diperkirakan sampah yang masuk mencapai 960 ton per hari,” ujar Ratu Dewa saat meninjau lokasi PSEL.

PSEL Palembang bukan sekadar fasilitas pengolahan sampah. Kehadirannya merupakan bagian dari upaya strategis pemerintah dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang mampu memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Dewa mengatakan, dimulainya pasokan sampah ke fasilitas PSEL merupakan momentum penting bagi Kota Palembang dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.

“Hari ini adalah hari perdana masuknya sampah dari beberapa tempat ke PSEL yang menghasilkan energi listrik. Dari Dinas Lingkungan Hidup diperkirakan sampah yang masuk mencapai 960 ton per hari,” ujar Dewa.

PSEL tidak hanya menjadi fasilitas pengolahan sampah, tetapi juga bagian dari langkah strategis pemerintah dalam mengubah persoalan sampah menjadi sumber daya yang memiliki nilai manfaat bagi masyarakat.

Tulisan lainnya :   OKI dan Muba Penyumbang Terbanyak Titik Api

Ratu Dewa menegaskan, PSEL Palembang merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) sekaligus menjadi salah satu proyek percontohan di tingkat nasional.

Dalam proses pengolahannya, sampah yang masuk ke fasilitas PSEL terlebih dahulu menjalani tahapan tertentu sebelum memasuki proses pembakaran. Material sampah difermentasi selama sekitar lima hingga tujuh hari untuk mempersiapkan proses berikutnya hingga akhirnya dapat menghasilkan energi listrik.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Palembang Akhmad Mustain mengatakan, pengiriman sampah menuju PSEL mencakup wilayah yang cukup luas, dengan sumber timbulan berasal dari lebih dari 400 Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang tersebar di Kota Palembang.

Dari total timbulan sampah Kota Palembang yang mencapai sekitar 1.260 ton per hari, sebanyak 960 hingga 1.000 ton per hari akan dialokasikan menuju bunker PSEL.

“Pengangkutan mencakup seluruh wilayah. Kita terus mengatur ritase armada agar distribusi sampah menuju PSEL dapat berjalan optimal,” jelas Akhmad Mustain.

Untuk mendukung proses pengangkutan tersebut, Pemkot Palembang menyiagakan 141 armada dari total 160 armada yang tersedia.

Pemkot juga menyiapkan penambahan armada melalui Anggaran Perubahan. Penambahan armada tersebut diharapkan dapat memperkuat sistem pengangkutan sampah sekaligus mengurangi beban armada yang saat ini beroperasi.

Pengoperasian PSEL Palembang akan memasuki momentum penting pada September 2026. Rencananya, pada 10 September 2026, akan digelar agenda yang dihadiri sejumlah pejabat pemerintah pusat, termasuk Menteri Koordinator Bidang Pangan serta Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.

Tulisan lainnya :   Lomba Bidar Besale, Berpadunya Tradisi dan Semangat

Sementara itu, peresmian fasilitas PSEL ditargetkan berlangsung pada Desember 2026 dan direncanakan diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia.

Bagi Pemkot Palembang, kehadiran PSEL diharapkan dapat mengubah paradigma pengelolaan sampah. Sampah yang selama ini identik dengan persoalan lingkungan dan kebutuhan lahan pembuangan kini dapat diolah menjadi bahan baku energi.

Meski demikian, Pemkot Palembang mengingatkan keberadaan PSEL bukan berarti persoalan sampah dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan teknologi pengolahan.

Masyarakat tetap memiliki peran penting, terutama dengan mengurangi produksi sampah dari sumbernya dan melakukan pemilahan sejak dari rumah.

Sampah yang masih memiliki nilai guna dapat dimanfaatkan kembali, sedangkan sampah yang harus diolah dapat diarahkan ke sistem pengelolaan yang tersedia.

Langkah tersebut sekaligus mendukung penerapan konsep ekonomi sirkular, yakni menjadikan sampah bukan sekadar limbah, melainkan sumber daya yang masih memiliki nilai dan dapat dimanfaatkan kembali.

Dengan dimulainya pengiriman sampah perdana ke PSEL, Palembang kini memasuki babak baru pengelolaan sampah perkotaan.

Pemerintah berharap fasilitas tersebut tidak hanya mendukung terwujudnya kota yang lebih bersih, tetapi juga mampu mengubah sampah menjadi sumber energi dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. (nda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *