Inovasi Kampung Patin di IGA Award, Produksi Ikan Sumsel Tembus 85 Ribu Ton

SUMSELHEADLINE.COM, PALEMBANG – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), H. Herman Deru memaparkan berbagai inovasi unggulan Pemerintah Provinsi Sumsel dalam presentasi Innovative Government Award (IGA) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) secara daring dari Griya Agung, Selasa (3/11/2026).

Di hadapan tim penilai yang terdiri dari Plt. Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri Kemendagri Raden Gani Muhammad, Kepala Organisasi Riset Tata Kelola dan Ekonomi Masyarakat BRIN Agus Eko, Guru Besar Universitas Sriwijaya Diah Natalisa, serta Frederic F. Jebada dari CNN, Herman Deru memaparkan dua inovasi unggulan Pemprov Sumsel, yakni Inovasi Kampung Patin dan Sistem Informasi Monitoring Alat Kesehatan (Simponi Alkes).

Dalam pemaparannya, Herman Deru menegaskan bahwa inovasi Kampung Patin merupakan bentuk dukungan nyata terhadap Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP), sekaligus memperkuat posisi Sumsel sebagai lumbung pangan nasional. Menurutnya, GSMP juga telah menunjukkan manfaat dalam upaya pengendalian inflasi di Sumsel.

“Kampung Patin adalah inovasi yang sangat spesifik. Patin dari Provinsi Sumsel menjadi penghasil terbesar secara nasional, yaitu 85.258,43 ton pada tahun 2025. Kabupaten OKU Timur memberikan sumbangsih besar, yakni 47.000 ton per tahun,” jelas Deru.

Ia menjelaskan, inovasi Kampung Patin tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga diarahkan untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Kampung Patin diharapkan dapat dikembangkan hingga menjangkau 40 ribu kampung serta menjadi upaya mencegah kepunahan ikan patin asli Sumsel, sehingga generasi mendatang tetap dapat mengenal dan melestarikannya.

Tulisan lainnya :   IWAPI Terus Aktif Dorong Peran Perempuan

Lebih lanjut, Deru memaparkan bahwa modernisasi Kampung Patin telah dilakukan melalui penguatan kelembagaan, pemeliharaan lingkungan, hingga hilirisasi produk. Salah satu hasil pengembangan hilirisasi tersebut adalah produk fillet ikan patin yang kini semakin berkembang.

Bahkan, melalui penerapan konsep zero waste, biaya pakan yang sebelumnya berkisar Rp13.000 hingga Rp15.000 dapat ditekan menjadi Rp9.000. Upaya tersebut turut mendorong peningkatan nilai produksi dari Rp538,3 miliar menjadi Rp1,05 triliun.

“Nilai tambah bagi petani bisa diberikan dengan sertifikasi. Kolaborasinya pentahelix dengan pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan,” tambahnya.

Sementara itu, inovasi kedua yang dipaparkan Herman Deru adalah Simponi Alkes (Sistem Informasi Monitoring Alat Kesehatan), yakni portal pengawasan terpadu berbasis aplikasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat secara langsung memeriksa apakah alat kesehatan yang digunakan masih layak atau telah melewati masa kedaluwarsa.

“Dengan adanya Simponi Alkes terjadi penurunan dan reduksi barang-barang yang tidak sesuai. Risiko masyarakat terhadap awamnya standar alkes bisa terbantu. Ada literasi bagi masyarakat untuk bisa menjadi pengawas,” ujar Deru.

Tulisan lainnya :   Dari Ruang Kelas Mewujudkan Rakyat Berdaulat, Adil, dan Makmur

Saat menjawab berbagai pertanyaan dari tim penilai, Herman Deru menegaskan bahwa Kampung Patin lahir dari kebiasaan masyarakat Sumsel yang membutuhkan sumber protein hewani. Dalam pelaksanaannya, masyarakat dapat terlibat melalui koperasi, sementara inovasi tersebut juga akan dikembangkan dan ditularkan ke kabupaten lainnya.

Menurutnya, inovasi Kampung Patin telah memberikan dampak langsung terhadap peningkatan pendapatan petani. Jika sebelumnya sebagian petani hanya mengandalkan sektor persawahan, kini budidaya ikan patin melalui Kampung Patin menjadi sumber penghasilan tambahan. Bahkan, dalam perkembangannya, usaha tersebut justru menjadi sumber penghasilan utama bagi sebagian petani.

“Inovasi Kampung Patin berdampak langsung bagi petani. Selama ini para petani hanya bersawah. Dengan adanya Kampung Patin bisa menjadi penghasilan tambahan, namun belakangan malah menjadi penghasilan utama. Berdampak pada turunnya kemiskinan,” tegasnya.

Menutup pemaparannya, Herman Deru menekankan bahwa keberlanjutan sebuah inovasi sangat bergantung pada keterlibatan dan penerimaan masyarakat. Karena itu, program pemerintah harus mampu berkembang menjadi gerakan bersama, sehingga manfaatnya tetap berlanjut meskipun terjadi pergantian kepemimpinan.

“Program-program seperti ini sudah menjadi pondasi, dan tidak hanya menjadi program tapi gerakan. Jika hal ini telah mengena di masyarakat, maka tidak akan berdampak jika terdapat pergantian kepemimpinan,” pungkasnya. (gih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *