Menolak Dipinggirkan, Catatan Pagelaran “Rindu Dua Penyair”

ADA momen sastra yang hanya singgah sebentar dalam ingatan, lalu menguap bersama derap langkah pulang penontonnya. Namun “Rindu Dua Penyair” yang digelar Dewan Kesenian Palembang di Gedung Kesenian Palembang, Jumat (16/1/2026), justru meninggalkan residu pemikiran yang sulit dihapus. Siang itu, puisi tidak datang untuk meminta simpati, tetapi menuntut posisi.

Dua penyair dari Yogyakarta, joko Pranoto dan Afnan Malay, Hadir bukan sebagai pengisi acara yang sekadar menjalankan jadwal. Mereka membawa kegelisahan yang lahir dari pengalaman panjang bergelut dengan kata, panggung, dan kenyataan bahwa puisi kerap diletakkan di sudut paling sunyi dari ruang publik.

Sejak awal acara, suasana terasa rapat namun bersahabat. Penyair Palembang seperti Anto Narasoma, Toton Dai Permana, Vebri Alintani, Tarech Rasyid, Rapani Igama, Yosef Fortass, M. Muhaimin, Rita, Heri Mastari, Ali Goik, dan pegiat sastra lintas komunitas duduk sejajar tanpa jarak simbolik.

Hadir pula perwakilan Dinas Pariwisata Palembang melalui Kabid Destinasi Nini, Balai Bahasa Sumatera Selatan yang diwakili Fifi, Ketua KKPP M. Riduan, serta akademisi Dr. Fery Kurniawan dari Universitas Bina Darma.

Yang membuat malam itu terasa hidup bukan hanya deretan nama, melainkan keberagaman usia yang jarang ditemui dalam forum sastra. Pelajar dari SMP Negeri 1 Palembang dan SMAN 6 Palembang duduk berdampingan dengan mahasiswa Universitas PGRI Palembang. Mereka tidak sekadar menyimak, tetapi menjadi bagian dari denyut percakapan—sebuah isyarat bahwa puisi masih menemukan pendengarnya.

Tulisan lainnya :   Pukul Wanita di SPBU, Oknum DPRD Kini Jadi Tersangka

Dukungan struktural juga tampak nyata. Jajaran pengurus Dewan Kesenian Palembang hadir lengkap, mulai dari Sekretaris Fadly Lonardo, Ketua Program Irfan Kurniawan, Ketua Komite Musik Moh, Ketua Komite Teater Hasan, Ketua Komite Sastra Inug, hingga Yan Tuan Kentang dari Komite Seni Rupa.

Kehadiran mereka memberi pesan jelas: sastra sedang diupayakan keluar dari pinggiran menuju pusat perhatian kebudayaan kota.

Pada sesi pembacaan, Joko Pranoto dan Afnan Malay tampil bergantian, diselingi penampilan penyair Palembang. Puisi-puisi yang dibacakan tidak berusaha memukau dengan permainan kata yang berlebihan.

Yang muncul justru ketegangan makna—antara pengalaman personal, kritik sosial, dan ingatan tentang kota. Tepuk tangan mengalir bukan sebagai formalitas, tetapi sebagai respons yang jujur.

Namun arah acara benar-benar menguat ketika diskusi dimulai. Dipandu Inug, forum ini menjelma ruang pengakuan dan gugatan. Joko Pranoto menyampaikan pandangannya tanpa basa-basi.

“Puisi terlalu sering diperlakukan sebagai acara sampingan. Gratis, lesehan, lalu selesai dengan tepuk tangan. Padahal, ini kerja kreatif yang menuntut keseriusan,” ujarnya.

Bagi Joko, profesionalisme bukanlah kata kotor dalam dunia sastra. Manajemen pertunjukan, kurasi yang jelas, dan kesediaan penonton membayar justru dipandang sebagai bentuk penghargaan terhadap kerja seni.

Tulisan lainnya :   Jemaah Haji Bawa Zamzam di Koper, Ini Dampaknya

“Kalau puisi digarap dengan konsep yang matang, ia bisa berdiri sejajar dengan seni lain. Martabat penyair ikut terangkat,” tegasnya.
Afnan Malay merespons dengan nada yang lebih kontemplatif. Ia sepakat bahwa puisi perlu dihargai, tetapi mengingatkan agar profesionalisme tidak memutus puisi dari akar kejujurannya.

“Puisi lahir dari pengalaman hidup dan perenungan panjang. Ia tidak bisa sekadar dikejar demi jadwal tampil,” katanya.

Menurut Afnan, tantangan sastra hari ini bukan hanya soal panggung, melainkan kesinambungan ruang intelektual. Ruang baca, ruang kritik, dan ruang dialog harus terus dipelihara agar puisi tidak berubah menjadi tontonan sesaat. Ia pun menaruh harapan pada generasi muda yang hadir malam itu.

“Selama masih ada anak muda yang mau mendengar puisi, sastra belum kehilangan masa depannya,” ujarnya.
Diskusi berlangsung hidup, dengan berbagai tanggapan dari peserta. Perbedaan sudut pandang Joko dan Afnan tidak saling meniadakan, justru membentuk kesadaran bersama: puisi membutuhkan struktur yang adil sekaligus kedalaman proses yang jujur.

Melalui “Rindu Dua Penyair”, Dewan Kesenian Palembang menghadirkan lebih dari sekadar panggung baca puisi. Malam itu menjadi penanda bahwa sastra Palembang sedang bergerak—menolak dipinggirkan, berani berbicara tentang martabat, dan mulai menegosiasikan ulang posisinya di ruang publik. (NDA)

Edidtor: Edi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *